Senin, 27 Februari 2017

LAPORAN PENDAHULUAN MORBILITI

A.  DEFINISI
Penyakit campak dikenal juga dengan istilah morbili dalam bahasa latin dan measles dalam bahasa inggris atau dikenal dengan sebutan gabagen (dalam bahasa Jawa) atau kerumut (dalam bahasa Banjar) atau disebut juga rubeola (nama ilmiah) merupakan suatu infeksi virus yang sangat menular, yang di tandai dengan demam, lemas, batuk, konjungtivitas (peradangan selaput ikat mata /konjungtiva) dan bintik merah di kulit (ruam kulit)
Ada beberapa pengertian tentang campak menurut  beberapa ahli, yaitu  :
a.        Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi (Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC,  2000).

b.      Campak adalah penyakit menular yang ditularkan melalui rute udara dari seseorang yang terinfeksi ke orang lain yang rentan (Brunner & Suddart, vol 3, 2001).

B.  ETIOLOGI
Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxovirus genus morbilivirus merupakan salah satu virus RNA. Virus ini terdapat dalam darah dan secret (cairan) nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir.                        
Ø  Bentuk virus
            Virus berbentuk bulat dengan tepi kasar dan bergaris tengah 140 nm dan di bungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA ), merupakan struktur heliks nucleoprotein dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjola pendek, satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin.

Ø  Ketahanan virus
            Pada temperature kamar virus campak kehilangan 60 % sifat infeksifitasnya selama 3-5 hari pada 37oC waktu paruh umurnya 2 jam, pada 56oC hanya satu jam. Pada media protein ia dapat hidup dengan suhu -70oC selama 5,5 tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4- 6oC dapat hidup selama 5 bulan. Virus tidak aktif pada PH asam. Oleh karena selubung luarnya terdiri dari lemak maka ia termasuk mikroorganisme yang bersifat ether labile, pada suhu kamar dapat mati dalam 20 % ether selama 10 menit dan 50% aseton dalam 30 menit. Dalam 1/4000 formalin menjadi tidak efektif selama 5 hari, tetapi tidak kehilangan antigenitasnya. Tripsin mempercepat hilangnya potensi antigenik.
Ø  Struktur Antigenik
            Infeksi dengan virus campak merangsang pembentukkan neutralizing antibody, complement fixing antibody, dan haemagglutinine inhibition antibody.  Imunoglobulin kelas IgM dan IgG muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi sekitar 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terukur, sehingga IgG menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibodi protektif dapat terbentuk dengan penyuntikan antigen haemagglutinin murni.

C.  PATOFISIOLOGI
Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada bagian belakang telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota badan. Selain itu, timbul gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan (konjungtivis). Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh, kulit akan tampak seperti bersisik. (Supartini, 2002 : 179).Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang.
            Penularan campak terjadi melalui droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Di tempat awal infeksi, penggadaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. Di tempat ini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dari tempat ini mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa.
            Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak Sedangkan limfosit T meliputi klas penekanan dan penolong yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, fokus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih, usus.Pada hari ke 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel aluran nafas dan konjungtiva, 1-2 lapisan mengalami nekrosis. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinik dari sistem saluran napas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah.
Respon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tanpa suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. Muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat dideteksi. Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam pada kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak.
D.  TANDA DAN GEJALA
Masa tunas 10-20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium :
1.      Stadium kataral (prodiomal) berlangsung 4-5 hari, gejala menyerupai influenza yaitu demam, malaise, batuk, fotofobia, konjungtiva. Gejala khas (photognomonik) adalah timbulnya bercak komplik menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul erantem. Bercak komplik berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dikelilingi dieritema dan berlokalisasi gukalis dengan molar bawah.
2.      Stadium erupsi gejala pada stadium kataral bertambah dan timbulnya enantem dipalatum durum dan palatum mole. Kemudian terjadi ruam eritomatosa yang berbentuk macula disertai meningkatnya suhu badan, ruam mula-mula timbul dibelakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, dapat terjadi perdarahan dingan, rasa gatal dan muka bengkak. Ruam mencapai bagian bawah pada hari ketiga dan menghilang sesuai urutan terjadinya dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening mandibula dan leher bagian belakang, splenomegali, diare  dan muntah,variasi mulut, yaitu measlek yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit mulut,hidung dan traktus dingestivus.
3.      Stadium kovalensi : gejala-gejala pada stadium  kataral mulai menghilang, erupsi menghilang dan meninggalakan bekas dikulit berupa hiperpigmentasi dan kulit bersisik yang bersifat patogenik. (Arief Mansjoer, 2000 :418)

E.  PENATALAKSANAAN MEDIS
Sesungguhnya tidak ada pengobatan yang spesifik untuk mengatasi penyakit campak. Pada kasus yang ringan, tujuan terapi hanya untuk mengurangi demam dan batuk, sehingga penderita merasa lebih nyaman dan dapat beristirahat dengan lebih baik. Dengan istirahat yang cukup dan gizi yang baik, penyakit campak (pada kasus yang ringan) dapat sembuh dengan cepat tanpa menimbulkan komplikasi yang berbahaya.
Bila ringan, penderita campak tidak perlu dirawat. Penderita dapat dipulangkan dengan nasehat agar selalu mengupayakan peningkatan daya tahan tubuh, dan segera kontrol bila penyakit bertambah berat.
Umumnya dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :
·         Isolasi untuk mencegah penularan
·         Tirah baring dalam ruangan yang temaram (agar tidak menyilaukan)
·         Jaga agar penderita tetap merasa hangat dan nyaman
·         Diet bergizi tinggi dan mudah dicerna. Bila tidak mampu makan banyak, berikan porsi kecil tapi sering (small but frequent)
·         Asupan cairan harus cukup untuk mencegah dehidrasi
·         Kompres hangat bila panas badan tinggi
·         humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
·         Obat-obat yang dapat diberikan antara lain:
-          Penurun panas (antipiretik): Parasetamol atau ibuprofen
-          Pengurang batuk (antitusif)
-          Vitamin A dosis tunggal :
o   Di bawah 1 tahun: 100.000 unit
o   Di atas 1 tahun: 200.000 unit
-          Antibiotika
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi komplikasi berupa infeksi sekunder (seperti otitis media dan pnemonia)
-          Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan pada penderita morbili dengan ensefalitis yaitu :
o   Hidrokortison 100-200 mg/hr selama 3-4 hari
o   Prednison 2 mg/kgBB/hr selama 1 minggu

F.   PEMERIKSAAN LABORATORIUM
ü  Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni, Dimana jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relative.
ü  Pemeriksaan serologic dengan cara hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya ras dan puncaknya pada 2-4 minggu kemudian.
ü   Biakan virus ( mahal ). Isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus. selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak  pada hapusan mukosa hidung.


G. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang terjadi disebabkan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh secara umum sehingga mudah terjadi infeksi tumpangan. Hal yang tidak diinginkan. adalah terjadinya komplikasi karena dapat mengakibatkan kematian pada balita, keadaan inilah yang menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti : Otitis media akut, Ensefalitis, Bronchopneumonia, dan Enteritis
Ø  Bronchopneumonia
            Bronchopneumonia dapat terjadi apabila virus Campak menyerang epitel saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan disebut radang paru-paru atau Pneumonia. Bronchopneumonia dapat disebabkan virus Campak sendiri atau oleh Pneumococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus yang menyerang epitel pada saluran pernafasan maka Bronchopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan kurang kalori protein.
Ø  Otitis Media Akut
            Otitis media akut dapat disebabkan invasi virus Campak ke dalam telinga tengah. Gendang telinga biasanya hyperemia pada fase prodormal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus terjadi otitis media purulenta.
Ø  Ensefalitis
            Ensefalitis adalah komplikasi neurologic yang paling jarang terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4 – 7 setelah terjadinya ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1.000 kasus Campak, dengan CFR berkisar antara 30 – 40%. Terjadinya Ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus Campak ke dalam otak
Ø  Enteritis
            Enteritis terdapat pada beberapa anak yang menderita Campak, penderita mengalami muntah mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus.

H.  PENGKAJIAN
a.    PENGUMPULAN DATA
1. Identitas : Terutama menyerang golongan umur 5-9 tahun. Pada negara belum berkembang insiden tertinggi < 2 tahun.
2.      Keluhan utama : Panas
3.      Riwayat Penyakit Sekarang : Demam ringan hingga sedang, mencapai puncak hari ke 5 sampai 39° - 40,6°C. Pada bayi / anak kecil disertai kejang demam.
4.      Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pernah penyakit yang sama sebelumnya, apakah waktu kecil di imunisasi atau tidak

5.      Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit campak sangat menular ± 90 % dari anak – anak yang rentan, dengan kontak keluarga akan mendapatkan penyakit ini.
6.      ADL
a.       Nutrisi : Selama periode demam biasanya disertai anoreksia dan muntah – muntah.
b.      Aktivitas : Selama periode demam biasanya disertai malaise, meningkatnya ketergantungan pemenuhan kebutuhan perawatan diri serta menurunnya aktivitas bermain.
7.         Riwayat imunisasi

b.    PEMERIKSAAN FISIK
a.       Pemeriksaan Keadaan umum
Suhu tubuh 39º - 40,6º C, malaise dan kelemahan
b.      Pemeriksaan fisik
1)      Kulit : Timbul rash
         Rash mulai timbul sebagai eritema makulopapular ( penonjolan pada kulit yang berwarna merah )
         Timbul dari belakang telinga pada batas rambut dan menyebar ke daerah pipi, seluruh wajah, leher, lengan bagian atas dan dada bagian atas dalam 24 jam I
         Dalam 24 jam berikutnya, menyebar menutupi punggung, abdomen, seluruh lengan dan paha, pada akhirnya mencapai kaki pada hari ke   2 – 3, maka rash pada wajah mulai menghilang.
         Proses menghilangnya rash berlangsung dari atas ke bawah dengan urutan sama dengan urutan proses pemunculannya. Dalam waktu       4 – 5 hari menjadi kehitam – hitaman ( hiperpigmentasi ) & pengelupasan (desquamasi).
2)      Kepala
         Mata :
Konjungtivitis & fotofobia.Tampak adanya suatu garis melintang dari peradangan konjungtiva yang dibatasi pada sepanjang tepi kelopak mata ( Transverse Marginal Line Injectio ) pada palpebrae inferior, rasa panas di dalam mata & mata akan tampak merah, berair, mengandung eksudat pada kantong konjungtiva.
         Hidung :
Bersin yang diikuti hidung tersumbat & sekret mukopurulen dan menjadi profus pada saat erupsi mencapai puncak serta menghilang bersamaan dengan menghilangnya panas.
         Mulut : Didapatkan koplik's spot
Merupakan gambaran bercak – bercak kecil yang irregular sebesar ujung jarum / pasir yang berwarna merah terang dan bagian tengahnya berwarma putih kelabu. Berada pada mukosa pipi berhadapan dengan molar ke – 2 , tetapi kadang – kadang menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan mukosa pipi. Timbulnya pada hari ke – 2 setelah erupsi kemudian menghilang. Tanda ini merupakan tanda khas pada morbili.
3)      Leher :
Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas rahang daerah servikal posterior. Hal ini disebabkan karena aktivitas jaringan limphoid untuk menghancurkan agen penyerang ( virus morbili ).
4)      Dada :
         Paru :
Bila terjadi perubahan pola nafas & ketidakefektifan bersihan jalan nafas akan didapatkan peningkatan frekuensi pernafasan, retraksi otot bantu pernafasan dan suara nafas tambahan. Batuk yang disebabkan oleh reaksi inflamasi mukosa saluran nafas bersifat batuk kering. Intensitas batuk meningkat mencapai puncak pada saat erupsi. Bertahan lama & menghilang secara bertahap dalam    5 – 10 hari.
         Jantung : Terdengar suara jantung I & II.
5)      Abdomen :
Bising usus terdengar, pada keadaan hidrasi turgor kulit dapat menurun.
6)      Anus & genetalia :
         Eliminasi alvi dapat terganggu berupa diare
         Eliminasi uri tidak terpengaruh.
7)      Ekstremitas atas dan bawah :
Ditemukan rash dengan sifat sesuai waktu timbulnya.













I.       PATHWAY
Rounded Rectangle: Paramyxoviridae morbili virus
Rounded Rectangle: Hiperplasi jaringan limfoid
Rounded Rectangle: KEKURANGAN VOLUME CAIRAN
 










































J.      ANALISA DATA
No.
Symtom
Etiologi
Problem
1
DS:
·         Mengeluh sulit nafas

DO:
·         Terdapat suara nafas tambahan
·         Perubahan irama nafas tambahan
·         Dyspnea
·         Sputum dalam jumlah yang berlebihan


Bersihan jalan nafas tidak efektif.
2
DS:
·         .
DO:
·         Kulit kemerahan
·         Peningkatan suhu tubuh
·         Dehidrasi
·         Kulit terasa hangat

Hipertermia
3
DS:
·         .
DO:
·         Kerusakan lapisan kulit
·         Gangguan permukaan kulit
·         Invasi struktur tubuh

Kerusakan integritas kulit
4
DS:
·         .
DO:
·         Penurunan turgor kulit
·         Penurunan turgor lidah
·         Membrane mukosa kering
·         Kelemahan
·         Peningkatan suhu tubuh



Kekurangan volume cairan.











K.    RENCANA KEPERAWATAN
v  Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas
v  Hipertermi b.d penyakit/adanya virus
v  Kerusakan integritas kulit b.d hipertermi
v  Kekurangan volume cairan b.d
v  Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
No.
Diagnosa keperawatan
Tujuan (NOC)
Intervensi (NIC)
Aktivitas
1
Bersihan jalan nafas tidak efektif
·         Menunjukan jalan nafas paten
Airway management
·         Berikan O2
·         Anjurkan pasien untuk istirahat yang cukup
·         Ajarkan fisioterapi dada kepada keluarga
·         Suction bila perlu
2
hipertermi
·         Suhu tubuh dalam rentan normal
·         Nadi dan RR dalam rentang normal
·         Tidak ada perubahan warna kulit
Fever treatment
·         Monitor suhu sesering mungkin
·         Monitor IWL
·         Monitor warna kulit
·         Monitor ttv
Berikan pengobatan penyebab demam (kaloborasi)
Kompres pasien
3
Kerusakan integritas kulit
·         Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
·         Tidak ada luka/lesi
·         Perfusi jaringan baik
·         Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit
Pressure management
·         Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
·         Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
·         Hindari kerutan pada tempat tidur
·         Mobilisasi pasien
·         \monitir kulit akan adanya kemerahan
·         Oleskan lotion
·         Monitor status nutrisi pasien
·          
4
Kekurangan volume cairan
·         Mempertahankan urine outpute sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
·         Ttv dalam batas normal
·         Tidak ada tanda tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membrane mukosa lembab
·         Tidak ada rasa haus yang berlebihan
Fluid management
·         Pertahankan catatan intake dan outpute yang akurat
·         Monitor status dehidrasi
·         Monitor vital sign
·         Monitor asupan makanann/cairan dan hitung intake kalori makanan
·         Kaloborasi pemberian cairan iv
·         Dorong masukan oral
·         Dorong keluarga untuk membantu pasien makn
·         Atur kemungkinan transgfusi
·         Persiapan untuk transfuse












DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, 2002. Keperawatan medikal Bedah. EGC : Jakarta
Donna L. Wong. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. EGC : Jakarta
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005 – 2006. Jakarta: Prima Medika