A.
DEFINISI
Penyakit
campak dikenal juga dengan istilah morbili
dalam bahasa latin dan measles
dalam bahasa inggris atau dikenal dengan sebutan gabagen (dalam bahasa Jawa)
atau kerumut (dalam bahasa Banjar) atau disebut juga rubeola (nama ilmiah)
merupakan suatu infeksi virus yang sangat menular, yang di tandai dengan demam,
lemas, batuk, konjungtivitas (peradangan selaput ikat mata /konjungtiva) dan
bintik merah di kulit (ruam kulit)
Ada beberapa pengertian
tentang campak menurut beberapa ahli,
yaitu :
a.
Morbili adalah penyakit anak menular yang
lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan
campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi (Ilmu
Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC,
2000).
b.
Campak
adalah penyakit menular yang ditularkan melalui rute udara dari seseorang yang
terinfeksi ke orang lain yang rentan (Brunner & Suddart, vol 3, 2001).
B.
ETIOLOGI
Penyakit
campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxovirus genus
morbilivirus merupakan salah satu virus RNA. Virus ini terdapat dalam darah dan
secret (cairan) nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa
gejala awal (prodromal) hingga 24 jam setelah timbulnya bercak merah di kulit
dan selaput lendir.
Ø Bentuk virus
Virus berbentuk bulat dengan tepi kasar dan bergaris
tengah 140 nm dan di bungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan
protein. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari
bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA ), merupakan struktur heliks
nucleoprotein dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjola pendek,
satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin.
Ø Ketahanan virus
Pada temperature kamar virus campak kehilangan 60 % sifat
infeksifitasnya selama 3-5 hari pada 37oC waktu paruh umurnya 2 jam, pada 56oC
hanya satu jam. Pada media protein ia dapat hidup dengan suhu -70oC selama 5,5
tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4- 6oC dapat hidup selama 5
bulan. Virus tidak aktif pada PH asam. Oleh karena selubung luarnya terdiri
dari lemak maka ia termasuk mikroorganisme yang bersifat ether labile, pada
suhu kamar dapat mati dalam 20 % ether selama 10 menit dan 50% aseton dalam 30
menit. Dalam 1/4000 formalin menjadi tidak efektif selama 5 hari, tetapi tidak
kehilangan antigenitasnya. Tripsin mempercepat hilangnya potensi antigenik.
Ø Struktur Antigenik
Infeksi dengan virus campak merangsang pembentukkan
neutralizing antibody, complement fixing antibody, dan haemagglutinine
inhibition antibody. Imunoglobulin kelas
IgM dan IgG muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan
mencapai titer tertinggi sekitar 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan
IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terukur, sehingga IgG menunjukkan
bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibodi protektif dapat
terbentuk dengan penyuntikan antigen haemagglutinin murni.
C.
PATOFISIOLOGI
Gejala awal ditunjukkan
dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada bagian belakang telinga,
dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota badan. Selain itu, timbul gejala
seperti flu disertai mata berair dan kemerahan (konjungtivis). Setelah 3-4
hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan tampak
bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh, kulit akan tampak seperti
bersisik. (Supartini, 2002 : 179).Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang
infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang.
Penularan
campak terjadi melalui droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum
timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Di tempat awal infeksi,
penggadaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus
masuk kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear
mencapai kelenjar getah bening lokal. Di tempat ini virus memperbanyak diri
dengan sangat perlahan dan dari tempat ini mulailah penyebaran ke sel jaringan
limforetikular seperti limpa.
Sel
mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak
Sedangkan limfosit T meliputi klas penekanan dan penolong yang rentan terhadap
infeksi, aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum
diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, fokus infeksi
terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam pembuluh darah dan menyebar ke
permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih,
usus.Pada hari ke 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel aluran nafas dan
konjungtiva, 1-2 lapisan mengalami nekrosis. Pada saat itu virus dalam jumlah
banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinik dari
sistem saluran napas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva
yang tampak merah.
Respon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada
sistem saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam
tinggi, tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tanpa suatu
ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. Muncul ruam
makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody
humoral dapat dideteksi. Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai akibat
respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam pada
kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus
infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara
mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah epitel
yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan
serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media dan
lain-lain. Dalam keadaan tertentu adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat
terjadi pada kasus campak.
D. TANDA DAN GEJALA
Masa
tunas 10-20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium
:
1. Stadium kataral
(prodiomal) berlangsung 4-5 hari, gejala menyerupai influenza yaitu demam,
malaise, batuk, fotofobia, konjungtiva. Gejala khas (photognomonik) adalah
timbulnya bercak komplik menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum
timbul erantem. Bercak komplik berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum
dikelilingi dieritema dan berlokalisasi gukalis dengan molar bawah.
2. Stadium erupsi
gejala pada stadium kataral bertambah dan timbulnya enantem dipalatum durum dan
palatum mole. Kemudian terjadi ruam eritomatosa yang berbentuk macula disertai
meningkatnya suhu badan, ruam mula-mula timbul dibelakang telinga, dibagian
atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, dapat terjadi
perdarahan dingan, rasa gatal dan muka bengkak. Ruam mencapai bagian bawah pada
hari ketiga dan menghilang sesuai urutan terjadinya dapat terjadi pembesaran
kelenjar getah bening mandibula dan leher bagian belakang, splenomegali,
diare dan muntah,variasi mulut, yaitu measlek yaitu morbili yang disertai
perdarahan pada kulit mulut,hidung dan traktus dingestivus.
3. Stadium kovalensi :
gejala-gejala pada stadium kataral mulai menghilang, erupsi
menghilang dan meninggalakan bekas dikulit berupa hiperpigmentasi dan kulit
bersisik yang bersifat patogenik. (Arief Mansjoer,
2000 :418)
E.
PENATALAKSANAAN MEDIS
Sesungguhnya tidak ada
pengobatan yang spesifik untuk mengatasi penyakit campak. Pada kasus yang
ringan, tujuan terapi hanya untuk mengurangi demam dan batuk, sehingga
penderita merasa lebih nyaman dan dapat beristirahat dengan lebih baik. Dengan
istirahat yang cukup dan gizi yang baik, penyakit campak (pada kasus yang
ringan) dapat sembuh dengan cepat tanpa menimbulkan komplikasi yang berbahaya.
Bila ringan, penderita
campak tidak perlu dirawat. Penderita dapat dipulangkan dengan nasehat agar
selalu mengupayakan peningkatan daya tahan tubuh, dan segera kontrol bila
penyakit bertambah berat.
Umumnya dilakukan
tindakan-tindakan sebagai berikut :
· Isolasi
untuk mencegah penularan
· Tirah
baring dalam ruangan yang temaram (agar tidak menyilaukan)
· Jaga
agar penderita tetap merasa hangat dan nyaman
· Diet
bergizi tinggi dan mudah dicerna. Bila tidak mampu makan banyak, berikan porsi
kecil tapi sering (small but frequent)
· Asupan
cairan harus cukup untuk mencegah dehidrasi
· Kompres
hangat bila panas badan tinggi
· humidikasi
ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik
mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
· Obat-obat
yang dapat diberikan antara lain:
- Penurun
panas (antipiretik): Parasetamol atau ibuprofen
- Pengurang
batuk (antitusif)
- Vitamin
A dosis tunggal :
o Di bawah 1 tahun: 100.000
unit
o Di atas 1 tahun: 200.000
unit
- Antibiotika
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi komplikasi berupa infeksi sekunder (seperti otitis media dan pnemonia)
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi komplikasi berupa infeksi sekunder (seperti otitis media dan pnemonia)
- Kortikosteroid
dosis tinggi biasanya diberikan pada penderita morbili dengan ensefalitis yaitu
:
o Hidrokortison 100-200 mg/hr
selama 3-4 hari
o Prednison 2 mg/kgBB/hr
selama 1 minggu
F.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
ü Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan
adanya leukopeni, Dimana jumlah leukosit cenderung menurun disertai
limfositosis relative.
ü Pemeriksaan serologic dengan cara hemaglutination
inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody
yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya ras dan puncaknya pada 2-4
minggu kemudian.
ü Biakan virus ( mahal ). Isolasi dan
identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien
2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit
(terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi
virus. selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak pada hapusan mukosa hidung.
G.
KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang terjadi disebabkan oleh adanya
penurunan daya tahan tubuh secara umum sehingga mudah terjadi infeksi
tumpangan. Hal yang tidak diinginkan. adalah terjadinya komplikasi karena dapat
mengakibatkan kematian pada balita, keadaan inilah yang menyebabkan mudahnya
terjadi komplikasi sekunder seperti : Otitis media akut, Ensefalitis,
Bronchopneumonia, dan Enteritis
Ø Bronchopneumonia
Bronchopneumonia dapat terjadi apabila virus Campak
menyerang epitel saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan disebut radang
paru-paru atau Pneumonia. Bronchopneumonia dapat disebabkan virus Campak
sendiri atau oleh Pneumococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus yang menyerang
epitel pada saluran pernafasan maka Bronchopneumonia ini dapat menyebabkan
kematian bayi yang masih muda, anak dengan kurang kalori protein.
Ø Otitis Media Akut
Otitis media akut dapat disebabkan invasi virus Campak ke
dalam telinga tengah. Gendang telinga biasanya hyperemia pada fase prodormal
dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang
rusak karena invasi virus terjadi otitis media purulenta.
Ø Ensefalitis
Ensefalitis adalah komplikasi neurologic yang paling
jarang terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4 – 7 setelah terjadinya ruam.
Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1.000 kasus Campak, dengan CFR berkisar
antara 30 – 40%. Terjadinya Ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik
maupun melalui invasi langsung virus Campak ke dalam otak
Ø Enteritis
Enteritis terdapat pada beberapa anak yang menderita
Campak, penderita mengalami muntah mencret pada fase prodormal. Keadaan ini
akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus.
H.
PENGKAJIAN
a.
PENGUMPULAN DATA
1. Identitas : Terutama
menyerang golongan umur 5-9 tahun. Pada negara belum
berkembang insiden
tertinggi < 2 tahun.
2. Keluhan
utama : Panas
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Demam ringan hingga sedang, mencapai puncak hari ke 5 sampai 39° - 40,6°C. Pada bayi / anak
kecil disertai kejang demam.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pernah penyakit
yang sama sebelumnya, apakah waktu kecil di imunisasi atau tidak
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit campak sangat menular ± 90
% dari anak – anak yang rentan, dengan kontak keluarga akan mendapatkan
penyakit ini.
6. ADL
a. Nutrisi
: Selama periode demam biasanya disertai anoreksia dan muntah – muntah.
b. Aktivitas
: Selama periode demam biasanya disertai malaise, meningkatnya ketergantungan
pemenuhan kebutuhan perawatan diri serta menurunnya aktivitas bermain.
7. Riwayat imunisasi
b. PEMERIKSAAN FISIK
a. Pemeriksaan
Keadaan umum
Suhu
tubuh 39º - 40,6º C, malaise dan kelemahan
b. Pemeriksaan
fisik
1) Kulit
: Timbul rash
Rash
mulai timbul sebagai eritema makulopapular ( penonjolan pada kulit yang
berwarna merah )
Timbul
dari belakang telinga pada batas rambut dan menyebar ke daerah pipi, seluruh
wajah, leher, lengan bagian atas dan dada bagian atas dalam 24 jam I
Dalam
24 jam berikutnya, menyebar menutupi punggung, abdomen, seluruh lengan dan
paha, pada akhirnya mencapai kaki pada hari ke 2 – 3, maka rash
pada wajah mulai menghilang.
Proses
menghilangnya rash berlangsung dari atas ke bawah dengan urutan sama dengan
urutan proses pemunculannya. Dalam waktu 4
– 5 hari menjadi kehitam – hitaman ( hiperpigmentasi ) & pengelupasan
(desquamasi).
2) Kepala
Mata
:
Konjungtivitis
& fotofobia.Tampak adanya suatu garis melintang dari peradangan konjungtiva
yang dibatasi pada sepanjang tepi kelopak mata ( Transverse Marginal Line
Injectio ) pada palpebrae inferior, rasa panas di dalam mata & mata akan
tampak merah, berair, mengandung eksudat pada kantong konjungtiva.
Hidung
:
Bersin
yang diikuti hidung tersumbat & sekret mukopurulen dan menjadi profus pada
saat erupsi mencapai puncak serta menghilang bersamaan dengan menghilangnya
panas.
Mulut
: Didapatkan koplik's spot
Merupakan
gambaran bercak – bercak kecil yang irregular sebesar ujung jarum / pasir yang
berwarna merah terang dan bagian tengahnya berwarma putih kelabu. Berada pada
mukosa pipi berhadapan dengan molar ke – 2 , tetapi kadang – kadang menyebar
tidak teratur mengenai seluruh permukaan mukosa pipi. Timbulnya pada hari ke –
2 setelah erupsi kemudian menghilang. Tanda ini merupakan tanda khas pada
morbili.
3) Leher
:
Terjadi
pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas rahang daerah servikal posterior. Hal
ini disebabkan karena aktivitas jaringan limphoid untuk menghancurkan agen
penyerang ( virus morbili ).
4) Dada
:
Paru
:
Bila
terjadi perubahan pola nafas & ketidakefektifan bersihan jalan nafas akan
didapatkan peningkatan frekuensi pernafasan, retraksi otot bantu pernafasan dan
suara nafas tambahan. Batuk yang disebabkan oleh reaksi inflamasi mukosa
saluran nafas bersifat batuk kering. Intensitas batuk meningkat mencapai puncak
pada saat erupsi. Bertahan lama & menghilang secara bertahap dalam
5 – 10 hari.
Jantung
: Terdengar suara jantung I & II.
5) Abdomen
:
Bising
usus terdengar, pada keadaan hidrasi turgor kulit dapat menurun.
6) Anus
& genetalia :
Eliminasi
alvi dapat terganggu berupa diare
Eliminasi
uri tidak terpengaruh.
7) Ekstremitas
atas dan bawah :
Ditemukan
rash dengan sifat sesuai waktu timbulnya.
I. PATHWAY
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||
J. ANALISA DATA
|
No.
|
Symtom
|
Etiologi
|
Problem
|
|
1
|
DS:
·
Mengeluh sulit nafas
DO:
·
Terdapat suara nafas tambahan
·
Perubahan irama nafas tambahan
·
Dyspnea
·
Sputum dalam jumlah yang berlebihan
|
|
Bersihan
jalan nafas tidak efektif.
|
|
2
|
DS:
·
.
DO:
·
Kulit kemerahan
·
Peningkatan suhu tubuh
·
Dehidrasi
·
Kulit terasa hangat
|
|
Hipertermia
|
|
3
|
DS:
·
.
DO:
·
Kerusakan lapisan kulit
·
Gangguan permukaan kulit
·
Invasi struktur tubuh
|
|
Kerusakan
integritas kulit
|
|
4
|
DS:
·
.
DO:
·
Penurunan turgor kulit
·
Penurunan turgor lidah
·
Membrane mukosa kering
·
Kelemahan
·
Peningkatan suhu tubuh
|
|
Kekurangan
volume cairan.
|
K. RENCANA KEPERAWATAN
v Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas
v Hipertermi b.d penyakit/adanya virus
v Kerusakan integritas kulit b.d hipertermi
v Kekurangan volume cairan b.d
v Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
|
No.
|
Diagnosa
keperawatan
|
Tujuan
(NOC)
|
Intervensi
(NIC)
|
Aktivitas
|
|
1
|
Bersihan
jalan nafas tidak efektif
|
·
Menunjukan jalan nafas paten
|
Airway
management
|
·
Berikan O2
·
Anjurkan pasien untuk istirahat yang cukup
·
Ajarkan fisioterapi dada kepada keluarga
·
Suction bila perlu
|
|
2
|
hipertermi
|
·
Suhu tubuh dalam rentan normal
·
Nadi dan RR dalam rentang normal
·
Tidak ada perubahan warna kulit
|
Fever
treatment
|
·
Monitor suhu sesering mungkin
·
Monitor IWL
·
Monitor warna kulit
·
Monitor ttv
Berikan pengobatan penyebab demam (kaloborasi)
Kompres pasien
|
|
3
|
Kerusakan
integritas kulit
|
·
Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
·
Tidak ada luka/lesi
·
Perfusi jaringan baik
·
Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit
|
Pressure
management
|
·
Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
·
Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
·
Hindari kerutan pada tempat tidur
·
Mobilisasi pasien
·
\monitir kulit akan adanya kemerahan
·
Oleskan lotion
·
Monitor status nutrisi pasien
·
|
|
4
|
Kekurangan
volume cairan
|
·
Mempertahankan urine outpute sesuai dengan usia dan BB, BJ urine
normal, HT normal
·
Ttv dalam batas normal
·
Tidak ada tanda tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik,
membrane mukosa lembab
·
Tidak ada rasa haus yang berlebihan
|
Fluid
management
|
·
Pertahankan catatan intake dan outpute yang akurat
·
Monitor status dehidrasi
·
Monitor vital sign
·
Monitor asupan makanann/cairan dan hitung intake kalori makanan
·
Kaloborasi pemberian cairan iv
·
Dorong masukan oral
·
Dorong keluarga untuk membantu pasien makn
·
Atur kemungkinan transgfusi
·
Persiapan untuk transfuse
|
|
|
|
|
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Brunner &
Suddarth, 2002. Keperawatan medikal Bedah.
EGC : Jakarta
Donna L. Wong.
2003. Pedoman Klinis Keperawatan
Pediatrik. EGC : Jakarta
Santosa,
Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan
NANDA 2005 – 2006. Jakarta: Prima Medika









